Carra's World

If the Real World is not Enough Anymore…

Working Mom : Pengisi Waktu?

Berawal ketika aku sedang dalam obrolan dengan seorang teman terdekatku… pertamanya sih tentang hal2 umum seperti bahas film ini lagu itu… lalu bergeser ke arah kerjaan… sedang dalam proyek apa dia sekarang… dan kemudian aku mulai bercerita tentang karirku… kuceritakan padanya, gimana aku sekarang bingung bagi waktu antara kantor dan rumah, plus  nyari tambahan pemasukan bulanan… akhirnya sampe ke pernyataan yang dilontarkannya kepadaku, “ah… elu mah kerja kan cuman buat isi waktu doang… ”

whoa… tanpa dinyana, aku terbelalak juga dengernya… iya, seperti yang udah diduga, aku pun langsung protes… hah???? cuma isi waktu…???

Ciiinnnn… klo gw cuman isi waktu doang, ngapain gw mati2an beginiii…???

Itulah stereotip di sini… seorang perempuan yang bekerja… dianggap tak lebih hanya pengisi waktu… apalagi dia udah mendapatkan jabatan juga sebagai istri dan seorang ibu… kalo udah sampe di sini, beuh nguap semua deh segala puja dan puji atas perjuangan RA Kartini dalam memajukan perempuan… iya kan?? akhirnya teteeeeeppp akan kembali lagi ke jaman kolonialisme…

Itu memang kodrat perempuan… untuk memenuhi semua tugas sebagai istri, ibu dan juga sebagai co pilot rumah tangga… berat?? emang… dan dengan demikian, berbahagialah wahai kamu perempuan-perempuan… bahwa kamu sudah dianugerahi kekuatan yang melebihi kekuatan makhluk manapun🙂 be proud of it!

well… kembali ke masalah pokok, yaitu working mom…

Jadi pagi ini ceritanya aku lagi mencari solusi untuk permasalahanku dan mencari apakah benar working mom itu cuman buat pengisi waktu?…  dan akhirnya menemukan beberapa artikel… lumayanlah… ternyata banyak juga yang merasakan hal yang sama denganku… kebanyakan para ibu bekerja ini beralasan, bahwa mereka mencari tambahan penghasilan… karena dengan biaya hidup yang seperti sekarang, buat sendiri aja banyak yang merasa kekurangan, apalagi harus hidup bersama seorang atau beberapa orang anak bahkan bayi…

Sebagian besar ibu yang kembali bekerja, bukan karena mereka ingin bekerja. Bagaimanapun, perasaan bersalah meninggalkan anak diasuh orang lain tetaplah ada. Namun, mereka juga tidak dapat menutup mata dengan kenyataan bahwa biaya hidup zaman sekarang sangatlah tinggi.

“Ini kenyataan yang kerap dihadapi oleh para ibu sebagai pengelola keuangan keluarga. Tidak ingin kesulitan dengan uang yang ada, para ibu banyak yang memilih kembali bekerja setelah melahirkan anak mereka,” terang Teresa.

diambil dari sini

setelah menemukan alasannya, lalu gimana solusinya…??

Waktu. Hubungan orang tua-anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak perlu berjam-jam. Yang penting, orang tua secara konsisten meluangkan sedikit waktu bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kita kepada mereka. Waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

Jadilah pendengar yang baik. Bila anak-anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau orang tua merendahkan gagasan anaknya atau “rajin” mengkritik kata-katanya, anak itu akan menarik diri dan memilih lebih dekat pada teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, mari menjadi pendengar yang baik. Mereka akan menerima kita bila kita membantu mereka memecahkan masalah.

Tentukan harapan yang jelas. Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh. Begitupun, kita harus berusaha agar mereka senang dilibatkan. Pada anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga, akan tumbuh etika kerja dan umumnya ia lebih merasa menjadi bagian dari keluarga.

Jangan membiarkan rasa bersalah. Banyak orang tua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orang tua yang baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan kontraproduktif.

Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang. Memang penting untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang, tetapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita. Pesan materialistis di televisi mudah sekali merasuki anak dan membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Bagaimana kita dapat membentengi mereka dari pengaruh buruk ini? Kita buat mereka untuk selalu berusaha bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diperoleh melalui bekerja, akan lebih terasa nilainya.

Jangan terlalu sering gonta-ganti pengasuh. Satu dari kebutuhan psikologi yang penting pada anak adalah bahwa ia terasuh dengan baik dan penuh kasih secara terus-menerus. Oleh karena itu kita memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh kecemasan kita akan berkurang selama kita bekerja. Namun sebelum menyerahkan anak pada seorang pengasuh, berikanlah kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh. Sering gonta-ganti pengasuh dapat membahayakan anak. Untuk mencari orang yang tepat atau situasi yang baik bagi anak, kalau perlu, pergilah ke tempat yang jauh!

Kuncinya: pengawasan. Sering kali ketika ditinggalkan orang tua, anak terjerumus dalam masalah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak diawasi. Anak-anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi. Karenanya, sangatlah penting bagi orang tua untuk mengetahui di mana anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang ngapain. Memang, anak sering mengeluh kalau ia diawasi ketat, tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga sering merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli dengan mereka!

Beri perhatian lebih saat ia baik. Ini bagian paling berat sebagai orang tua. Kita cenderung lebih memperhatikan anak-anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, jauh lebih sulit untuk memperhatikan perilaku baik mereka. Namun, jika ingin anak berperilaku baik, berilah perhatian pada hal-hal yang kita sukai dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan berperilaku salah untuk menarik perhatian kita. Memperhatikan mereka sewaktu mereka baik, memang memerlukan usaha.

Hukuman itu untuk mendidik. Orang tua yang bekerja di luar rumah, cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Maka mereka lebih mudah kehilangan kontrol terhadap anak-anak. Ini dapat menimbulkan masalah. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan.

Berikan teladan dalam relasi. Anak belajar berelasi dari orang tua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orang tua saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Maka hal terbaik yang dapat dilakukan bagi anak-anak kita adalah mencintai pasangan kita. (Tabloid Nova)

yah… aku cuma sharing aja apa yang udah aku dapat… semoga ada seorang working mom lain yang mempunyai permasalahan yang sama denganku yang bisa memanfaatkan tulisan ini… dan Anda-anda para suami, jangan remehkan karir istri Anda:mrgreen: … we have the ability and we have the strength!! dan kemudian sekarang…

Doain saja, aku bisa membesarkan anakku menjadi…

S.E.M.P.U.R.N.A (Andra and The Backbone mode on)

Filed under: Opini and Articles, , , , , ,

13 Responses

  1. zefka says:

    semoga doanya terkabul untuk menjadikan anak menjadi “sempurna” amin…
    Gw penginnya kalo istri kerja, kerjanya yg bisa di rumah aja, bisa tetap mantau perkembangan buah hati kami yg untuk saat ini masih sgt butuh. perkembangan jiwa anak yg ditnggal ortunya kerja biasanya lebih labil, emosional. Anak terutama yg masih di masa pertumbuhan butuh seorang panutan, yg terdekat pastilah ortunya.
    Tidak berkurang jasa seorang ibu/wanita hanya karena dia tidak menjadi seorang “working mom”. Kerja ngurus rumah bisa jadi lebih membutuhkan keahlian dari pada kerja secara formal.

  2. sepanjang pengetahuan sih… kalo bapak-ibunya kerja, kondisi rumah 95% jadi ndak kondusif (children included) :p

  3. mas stein says:

    makasih infonya mbak, berguna untuk saya yang suami istri kerja di luar. saya sendiri selalu mengusahakan waktu pulang kerja main sama junior, sampe dia tidur juga saya yang nidurin, harapannya dia ndak lupa kalo punya ayah🙂

  4. ERU says:

    Sempurnaaaa… *menyenandung*, nggit :-”

    heum, ya saya pikir keluarga kan ada macem-macem🙂 ga semua yang bapak-ibu kerja mesti tidak kondusif, gimana effort n komunikasi😛

    * sambil nyatet point-point diatas *

  5. nairasmile says:

    mba..tengkyu artikelnya
    lumayan buat bahan2 parenting.. aq jg lagi sering nonton the nanny nih..biar kl punya anak bisa tau ngadepinnya
    kan saya juga calon ibu:mrgreen:
    ~siap2 nyatet~

  6. carra says:

    zefka :
    hummmm… jujur…sebenernya aku malah iriii banget sama perempuan2 yang bisa 24 jam penuh menjadi ibu rumah tangga… makanya terlahir artikel ini… sebagai “obat” rasa bersalah, lebih tepatnya… perkembangan anak yg ditinggal ortu bekerja bisa macam2… ada yg memang lantas labil… tapi ada juga yg sudah bisa mandiri sejak kecil dan kemudian jadi anak yg luar biasa kreatif🙂 coba aja dicari artikelnya… banyak kok… sayang artikel2 yg itu kmrn ga sempet kusave… maklum… nulis ini pun di antara deadline🙂 semuanya memang kembali ke sikap si ortu… kualitas memang berbeda arti dengan kuantitas…

    anton :
    oh ya…???🙂 coba kalo ada waktu di riset kembali…

    mas stein :
    kembali kasih…🙂 menurut artikel2 yg kemaren saya baca, pokoknya pada prinsipnya, waktu kebersamaan yang berkualitas… saya kalo udah dirumah, diusahakan 100% anak nempel di saya… ga ada lagi campur tangan orang lain…

    eru :
    betul banget ru…:mrgreen: selamat membayang2kan kalo punya anak… (^_^)V

    nai :
    cuiit cuiiittt… kaenya bahan referensi udah mulai terkumpul nih… hahahahahak…

  7. WANDI thok says:

    Sip mbak Carra, cara njelasinnya, biar pada tahu tuh ibuk-ibuk nyang super sibuk, apalagi kalo udah mace book, waduh… anak dah ngantuk masih ethok-ethok nyibuk macebook.🙄😀

    • hawe69 says:

      Mas Wandi, itu kan gunanya pesbuk…’menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh’…hahahhahaha

      Carra, sorry.. nyelak komen nih… hehehe

  8. emfajar says:

    amiinn.. semoga doanya mba’ carra terkabul..

    *nice article..

  9. ansella says:

    ayo kamu bisa pooooooo……

    ‘cipok’ aku sudah sampai di sini kok poo, mamsiku bisa pasti dirimu juga bisa, hiduuupppp…..

  10. warm says:

    ini pasti resensi Nova minggu kmaren,
    erh persis, soal hukum menghukum anak ituh,
    dan…
    jadi mikir, perasaan lebih beres kerjaan honey di banding saya yang kadang cuma seperti ngisi waktu luang saja huhuhu

  11. Artha says:

    memang serba sulit ya, menggali [bekerja] terlalu lama, berakibat anak tak keurus, malahan menjadi sebuah persolanan baru terhadap diri anak, yach disinilah kita di uji untuk berbagi waktu

  12. achoey says:

    Seorang sahabatku melakukan survey lewat SMS ke beberapa sahabatnya yang laki-laki. Dan kata dia, lebih banyak laki-laki yang ingin istrinya bekerja. Ehm, asal jangan telantarkan anak aja kali ya😀

    Lama ga bersua, sahabat

Leave a blah blah!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Travellers

  • 99,164 drops

Storage

SEO Services & ToolsSubmit Express

Self-Portrait of @RedCarra

Blogger. Designer. Web-Marketer. Marketing and Visual Communicator. Social Media Junker.
Female. A wife. A mother of 2. Curvy. Short. Jeans or legging. T-Shirt or Batik. Backpack. Wild mind. Easy to get panic. Cynic. Rebellious. Logic. Realistic. Moody. Details. Impatient. Clumsy. Straight forward. Procrastinator. Black and Dark Maroon. Graphic Design. Webs and Blogs. Photography. Architecture. Interior. Crafts. Coffee. Guava Juice. Chocolate. Music. Internet. Book.

Me? Get hurt? Just do that to me one more time.

Tuiiiiittt!!!!

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,585 other followers

RSS Carra Design

  • Weekly Photo Challenge: Renewal
    This week WP Photo Challenge theme is Renewal … This word conjures a variety of images, from bright blossoms to meditating monks. When I think of “renewal,” I think of […]

RSS Carra Media

  • Jangan Asal Cropping
    Cropping refers to the removal of the outer parts of an image to improve framing, accentuate subject matter or change aspect ratio. Depending on the application, this may be performed on a physical photograph, artwork or film footage, or achieved digitally using image editing software. The term is common to the film, broadcasting, photographic, graphic desig […]
%d bloggers like this: